 |
|
May 12, 2005
PETA HIJAU Langkah Per Langkah
Elanto "Joey (Jw: Joyo)" Wijoyono*
Pendahuluan
Pemetaan merupakan pekerjaan pengukuran suatu daerah untuk
menentukan unsur-unsur (jarak dan sudut) titik-titik atau bangunan-
bangunan yang ada dalam jumlah yang cukup, sehingga dapat dibuat
bayangan atau gambar dengan skala tertentu dari seluruh isi daerah
yang dipetakan. Tujuan pemetaan sendiri secara umum adalah untuk
menghasilkan peta yang bisa dipertanggungjawabkan, baik secara
administratif, geografis, astronomis, edukatif, informatif, dan
praktis. Selain itu, peta adalah sebuah penyajian secara
matematis informasi-informasi spasial (spatial) dari muka planet
secara katografis dan melalui simbol-simbol. Menurut A.H.A. Hogg,
selain dapat mempermudahinterpretasi, sebuah peta juga bisa membantu
proses penyimpanan dan penyelamatan informasi dalam jangka panjang
dan berkesinambungan (Hascaryo, 1999). Berbagai disiplin ilmu telah
melakukan pekerjaan pemetaan, misalnya geodesi, geografi, geologi,
kehutanan, pertanian, teknik sipil, dan arkeologi.
Untuk keperluan praktis dan populer pun pemetaan juga dilakukan,
seperti yang tampak dalam Peta Hijau. Peta Hijau jelas merupakan
sebuah peta. Mengapa peta? Hal itu dikarenakan Peta Hijau berhubungan
erat dengan lingkungan dan materi budaya, dan keduanya tidak bisa
dilepaskan.
Sebagai sebuah data yang bersifat piktorial, peta itu memiliki
kerangka yang membedakannya dengan gambar atau sketsa. Hal itulah
yang menjadi dasar sebuah peta dalam menyajikan detil-detil yang
berhubungan dengan fungsi peta itu sendiri. Kerangka peta adalah
bagian yang sangat vital pada proses pemetaan permukaan bumi (surface
mapping). Kesalahan dalam proses pemebuatan hingga penentuan kerangka
tersebut akan dapat mengahsilkan suatu peta yang berbeda dengan
kenyataan di lapangan. Interpretasi yang dihasilkan pun menjadi tidak
sesuai pula (ibid.). Walaupun sifatnya tidak terlalu atau tidak
mengarah ke sifat yang ilmiah, Peta Hijau pun
seharusnya mengikuti proses pemetaan yang bersifat universal. Hal ini
disebabkan oleh arti penting sebuah peta yang dalam proses
pembuatannya memerlukan berbagai perhitungan, pertimbangan, dan
perbaikan-perbaikan. Proses pembuatan Peta Hijau selama ini tampaknya
belum terlalu memperhatikan hal-hal sangat mendasar seperti itu.
Akibatnya, peta yang dihasilkan sering memberikan informasi keletakan
titik-titik situs yang kurang akurat. Usaha-usaha untuk meninjau
kembali titik-titik tersebut menjadi sulit karena apa yang tertera
di peta seringkali tidak sesuai dengan yang ada di kenyataan (di
lapangan).
Permasalahan
Perkembangan metode pemetaan sudah sangat cepat. Metode pemetaan
saat ini pun sudah sangat maju. Proses-proses pemetaan saat ini sudah
tidak lagi dilakukan dengan metode-metode sederhana yang hanya
mengandalkan pada kompas. Berbagai peralatan canggih untuk keperluan
pengukuran yang lebih baik dan akurat saat ini sudah banyak dipakai,
bahkan hingga alat-alat ukur digital.Komunitas-komunitas Peta Hijau
sendiri masih kesulitan untuk mengikuti perkembangan metode pemetaan
itu. Hal itu disebabkan oleh berbagai hal, antara lain sumberdaya
manusia yang kurang terlatih dan keterbatasan dana. Pengetahuan-
pengetahuan dasar mengenai peta dan pemetaan masih kurang
dipahami oleh para greenmapper. Karena peta merupakan penggambaran
situasi di permukaan bumi, pengetahuan-pengetahuan seperti itu
seharusnya mutlak dikuasai. Peta Hijau harus bisa memberikan
informasi yang jelas dan akurat dengan menggunakan peta. Apalagi
media ini dipilih sendiri dalam upayanya untuk menyajikan informasi-
informasi mengenai situasi lingkungan dan budaya di suatu wilayah.
Peta Hijau memang ditujukan untuk keperluan praktis. Namun, tidak ada
salahnya jika Peta Hijau juga mampu tampil sebagai peta yang tidak
hanya mengejar sisi praktisnya, tetapi juga mampu pertanggungjawabkan
secara ilmiah, sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang-bidang
keilmuan pula. Kemampuan Peta Hijau untuk bisa menembus sekat-sekat
dimensi bidang ilmu ini akan menambah nilai peta yang dihasilkannya.
Hal ini harus segera dijadikan fokus perhatian agar Komunitas Peta
Hijau bisa semakin maju dan peta-peta yang dihasilkannya bisa
memberikan manfaat yang lebih banyak.
Proses pembuatan Peta Hijau
Pembuatan Peta Hijau merupakan sebuah proses penyusunan peta tematik
mengenai lingkungan dan budaya di suatu kawasan. Salah satu hal yang
menjadi ciri Peta Hijau adalah proses pembuatannya yang melibatkan
relawan dari berbagai macam latar belakang termasuk masyarakat lokal
yang wilayahnya akan dipetakan. Dengan proses pelibatan relawan
seperti ini diharapkan dapat membuka cakrawala baru mengenai kondisi
lingkungan dan budaya di suatu kawasan, sekaligus mengenai arah
perkembangannya sendiri yang diharapkan bisa lebih arif, tertata,
dan berkelanjutan.
Pekerjaan pemetaan sendiri merupakan pekerjaan yang mutlak harus
dilakukan di lapangan dalam proses pengumpulan datanya. Oleh karena
itu, proses ini dengan kata lain bisa dimasukkan ke dalam kategori
penelitian survai. Penelitian survai yang dilakukan ini menjadi
istimewa karena memiiki hasil akhir berupa peta dan prosesnya pun
memerlukan pendekatan tersendiri. Oleh karena itu, di bawah ini akan
diuraikan bagaimanakah proses pembuatan Peta Hijau itu dan apa saja
yang diperlukan atau dilakukan untuk menghasilkan sebuah Peta Hijau.
Tujuan survai dapat merupakan pengumpulan data secara deskriptif
saja, seperti keadaan perumahan, pemilikan tanah, jumlah jamban, dan
lain-lain. Tujuannya dapat pula lebih jauh dari itu, bersifat
menerangkan atau menjelaskan, seperti mempelajari fenomena sosial
dengan melihat hubungan variabel penelitian. Jadi, penelitian survai
dapat bertujuan praktis, tetapi dapat juga sangat teoritis
(Singarimbun, 1981). Hal itu tidak menyimpang dari tujuan pembuatan
Peta Hijau sendiri yang pada dasarnya juga merupakan sebuah
penelitian yang akan menghasilkan sebuah database mengenai tema
tertentu yang berkaitan dengan fenomena-fenomena lingkungan dan
budaya. Dengan adanya database hasil penelitian, dari situ akan bisa
dihasilkan berbagai macam Peta Hijau dengan tema tertentu.
Penelitian sendiri merupakan suatu proses yang panjang. Menurut
Singarimbun (ibid.), suatu penelitian berawal dari minat untuk
mengetahui fenomena tertentu. Titik tolak yang sebenarnya bukanlah
metodologi penelitian, tetapi kepekaan dan minat yang ditopang oleh
akal sehat (common sense). Dalam melakukan suatu penelitian, ada
tahap-tahap yang harus ditempuh agar bisa tercapai hasil penelitian
yang diharapkan. Tahap-tahap itu perlu dilaksanakan dengan kritis,
cermat, dan sistematis. Perlu diperhatikan bahwa setiap langkah sama
pentingnya karena tiap tahap adalah suatu mata rantai. Secara
sederhana, langkah-langkah yang biasanya ditempuh dalam
pelaksanaan survai adalah sebagai berikut:
1. merumuskan masalah penelitian dan menentukan tujuan survai
2. menentukan konsep, hipotesis, dan menggali literatur
3. pengambilan sampel
4. pembuatan kuesioner
5. pekerjaan lapangan (termasuk memilih dan melatih pewawancara)
6. mengedit dan mengode data
7. analisa dan pelaporan
Pembuatan Peta Hijau memang tidak jauh berbeda dengan sebuah proses
penelitian survai. Hanya saja, dalam pembuatannya, Peta Hijau
memiliki beberapa karakteristik khusus, terutama dalam hal metode
penelitiannya. Misalnya, jika dalam sebuah penelitian survai, para
pencari data di lapangan mencari data dengan melakukan survai dan
observasi dengan menitikberatkan pada metode wawancara. Dalam
pembuatan sebuah Peta Hijau, metode seperti itu juga dilakukan.
Namun, disamping itu, para pencari data di lapangan harus sekaligus
melakukan proses-proses pemetaan juga. Maka dari itu, Peta Hijau
sudah seharusnya memiliki sebuah metode standard tersendiri yang bisa
mengakomodasi kepentingan dan tujuan yang disasar. Metode tersebut
tidak akan jauh berbeda dengan langkah-langkah dalam sebuah
penelitian survai. Hanya saja, metode pembuatan Peta Hijau akan
lebih spesifik untuk tujuannya sendiri.
Dari pengalaman beberapa kali melakukan proses pembuatan Peta Hijau
selama ini, para greenmapper sudah memiliki sebuah metode dengan
tahap-tahap yang sudah direncanakan. Langkah-langkah yang biasa
diterapkan oleh Komunitas Peta Hijau selama ini adalah sebagai
berikut:
1. pembentukan tim inti dan merumuskan proyek pemetaan yang akan
dilakukan (termasuk kawasan yang akan dipetakan dan pendanaan)
2. rekruitmen relawan
3. pencarian data di lapangan (termasuk pelatihan relawan)
4. kompilasi data
5. desain dan cetak
6. peluncuran dan distribusi
Langkah-langkah tersebut di atas secara umum hampir sama seperti
langkah-langkah dalam penelitian survai. Metode itu telah terbukti
bisa menghasilkan beberapa Peta Hijau. Namun, Peta Hijau yang
dihasilkan secara umum masih jauh dari sempurna. Masih banyak ditemui
informasi-informasi dalam peta yang kurang akurat dan tidak sesuai
dengan kenyataan yang ada di lapangan. Tentu saja hal ini sangat
disayangkan. Jika dilihat secara lebih seksama, permasalahannya
terletak pada metodenya sendiri. Selama ini, metode yang dipakai
masih cenderung belum memiliki konsep yang jelas. Selain itu, peran
para relawan terutama yang merupakan masyarakat lokal belum bisa
optimal karena ketidakjelasan konsep metode yang dipakai menyebabkan
sering timbul kerancuan penentuan fungsi masing-masing pihak yang
terlibat. Selanjutnya, proses kompilasi data yang dilakukan juga
belum bisa dioptimalkan. Sekali lagi, peran masing-masing pihak yang
terlibat masih kurang jelas. Hal ini secara tidak langsung juga
berpengaruh pada analisis data selanjutnya yang berfungsi dalam
penyusunan peta.
Dari permasalahan yang ada dan dengan melihat metode-metode
penelitian serta pemetaan yang baik, bisa kemudian dimunculkan sebuah
metode yang khusus bagi kepentingan pembuatan Peta Hijau. Metode yang
akan dimunculkan ini akan tetap berbasis pada langkah-langkah yang
selama ini sudah digunakan oleh greenmapper, hanya saja pada beberapa
hal akan mengalami penyesuaian dengan metode-metode yang lebih jelas
dan akurat. Secara garis besar, metode yang ditawarkan adalah sebagai
berikut:
1. perumusan masalah dan tujuan
2. desain penelitian bersama
3. pekerjaan lapangan
4. koleksi data gabungan
5. analisis data bersama
6. hasil akhir
1. Perumusan masalah dan tujuan
Peta Hijau dibuat dengan memperhatikan suatu kawasan termasuk
pelibatan masyarakat lokal. Hal ini merupakan pendekatan yang sudah
menjadi ciri khas Peta Hijau. Dalam bidang keilmuan, pendekatan
seperti ini disebut dengan partisipatoris. Pendekatan ini dalam
aplikasinya melibatkan seluruh unsur dan potensi masyarakat dalam
sebuah proses penelitian. Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan bahwa
metode ini berbeda dengan metode penelitian konvensional yang sangat
tergantung pada peranan peneliti profesional tanpa mengikutsertakan
peran serta mayarakat. Peneliti seolah-olah menjadi bagian yang
terpisah dari masyarakat yang ditelitinya, sehingga semua penyusunan
perencanaan dan proses penelitian dikerjakan seluruhnya oleh para
peneliti. Sebagai pihak yang diteliti, masyarakat tidak akan pernah
tahu dan mengerti apa yang dilakukan oleh peneliti terhadap mereka.
Masyarakat pun tidak punya hak kontrol atas jalannya penelitian dan
otomatis tidak memiliki tanggung jawab apa pun terhadap hasil
penelitian (Prasodjo, 2000).
Berdasarkan metode yang lebih menekankan keikutsertaan masyarakat
dalam keseluruhan penelitian ini, masyarakat dilibatkan sejak awal
penyusunan proposal hingga penyimpulan hasil penelitian. Komunitas
Peta Hijau selama ini belum melakukan pendekatan partisipatoris yang
menyeluruh seperti ini. Pelibatan masyarakat lebih banyak tercurah
dalam proses pekerjaan lapangan. Sementara, proses awal seperti
penyusunan konsep dan proposal peneliotian serta proses akhir seperti
analisis data dilakukan oleh tim kecil greenmapper; pada bagian ini
masyarakat masih belum dilibatkan secara penuh.
Agar tujuan Peta Hijau bisa benar-benar mencapai sasarannya,
pelibatan masyarakat sudah seharusnya dilakukan sejak awal. Pada awal
proses, tim Peta Hijau bersama masyarakat merumuskan permasalahan
bukan berdasarkan kepentingan dan disiplin tim Peta Hijau**, tetapi
berdasarkan masalah yang ada dan dihadapi di lapangan. Dengan
demikian, biasanya, permasalahan yang dihasilkan benar-benar bisa
mencerminkan permasalahan yang muncul di dalam kehidupan sehari-hari
kawasan dan masyarakat yang akan dipetahijaukan.
2. Desain penelitian bersama
Desain penelitian ini dilakukan secara bersama-sama dengan membentuk
suatu konsensus antara tim Peta Hijau dengan masyarakat. Memang
sebaiknya perumusan masalah hingga desain penelitian ini dilakukan
oleh sebuah kelompok kecil yang di dalamnya terdiri dari tim Peta
Hijau dan wakil-wakil masyarakat. Hal ini akan lebih mempermudah
proses daripada harus melibatkan banyak orang sejak awal. Kelompok
kecil inilah yang bertanggung jawab atas lingkaran proses penelitian
(pembuatan Peta Hijau) secara keseluruhan. Desain penelitian itu
dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan permasalahan yang akan
dijadikan objek. Dalam proses inilah dipersiapkan metode-metode yang
akan dipakai dalam proses pencarian data. Penentuan sampel dan
pembuatan kuesioner atau pedoman wawancara juga dilakukan pada tahap
ini.
Berbagai peralatan dan perlengkapan juga harus dipersiapkan pada
tahap ini. Setelah rumusan masalah dan desain penelitian siap,
peralatan dan perlengkapan yang diperlukan baru bisa diketahui secara
rinci. Paling tidak ada dua peralatan dasar,yaitu untuk kepentingan
pencarian data dan untuk kepentingan pemetaan. Peralatan dan
perlengkapan untuk pencarian data secara umum lebih mudah
dipersiapkan, misalnya buku catatan, kertas kosong, alat tulis, tape
recorder, dan peralatan dokumentasi (kamera foto, kamera video).
Selain itu, harus dipersiapkan pula peralatan dan perlengkapan
pemetaan, seperti peta topografi kawasan yang akan dipetakan (paling
tidak tersedia tiga skala, yaitu 1:100.000, 1:50.000, dan 1:25.000),
foto udara, peta geologi, peta tata guna lahan, peta adminsitratif,
peta hidrologi dan tanah, serta peta-peta lain yang mendukung.
Keberadaan peta-peta semacam ini berguna untuk memberikan gambaran
umum mengenai kondisi lokasi yang akan dipetakan dan juga untuk
mempermudah pada saat terjun ke lapangan serta terutama pada saat
analisis dan interpretasi data-data temuan. Selain peta, akan
lebih baik jika bisa dipersiapkan pula peralatan seperi kompas,
meteran, buku ukur, radio panggil, hingga GPS (Global Position
System). Peralatan ini penting pada saat berada di lapangan, terutama
dalam menentukan letak suatu lokasi dengan akurat.
3. Pekerjaan lapangan
Pekerjaan lapangan ini pada intinya merupakan proses pencarian data
di lapangan. Namun, proses pelatihan relawan pencari data juga
termasuk dalam tahap ini. Relawan pencari data yang berasal dari
masayarakat dari berbagai latar belakang ini bisa direkrut sejak awal
atau bisa juga baru direkrut menjelang pekerjaan lapangan ini akan
dilaksanakan. Sementara, beberapa wakil elemen masyarakat lainnya
telah terlibat sejak awal proses pembuatan Peta Hijau ini bersama tim
Peta Hijau. Proses pelatihan ini bisa dilakukan langsung oleh
kelompok kecil yang mendesain penelitian atau bisa juga membentuk tim
pelatih/pemateri tersendiri.
Pelatihan relawan pencari data ini sudah dilakukan oleh Komunitas
Peta Hijau selama ini dalam bentuk workshop. Hanya sayangnya,
workshop yang selama ini dipraktikkan kurang maksimal karena terlalu
singkatnya waktu dan konsep serta materi yang kurang jelas.
Akibatnya, sering para relawan kebingungan pada saat berada di
lapangan. Pelatihan yang dilakukan seharusnya memiliki waktu
pelaksanaan yang cukup untuk pembekalan materi teoritis dan praktik-
praktik. Hal ini menjadi penting karena tugas para relawan pencari
data ini natinya tidak hanya melakukan pencarian data dengan
deskripsi dan wawancara, tetapi juga sekaligus melakukan pemetaan
atas wilayah yang menjadi bagiannya. Hal terakhir inilah yang selama
ini sering luput dari perhatian, sehingga informasi yang didapatkan
oleh para relawan sering tidak terpakai pada akhirnya karena para
relawan pencari data sering kesulitan atau bahkan lupa melakukan
ploting lokasi di peta.
Untuk masalah pencarian data, para relawan akan dibekali dengan
pengetahuan-pengetahuan mengenai metode-metode pencarian data,
seperti wawancara, deskripsi verbal, pembuatan sketsa, hingga proses-
proses dokumentasi baik menggunakan kamera foto maupun kamera video.
Akan sangat baik jika setiap relawan bisa dibekali materi-materi
tersebut karena akan sangat memudahkan proses di lapangan nantinya.
Namun, jika dana dan peralatan terbatas, hal-hal tertentu bisa
saja diserahkan kepada sebuah tim khusus, misalnya tim khusus
dokumentasi yang bertugas membuat foto dan video.
Pemetaan juga harus mendapatkan porsi yang seimbang. Setiap relawan
dilatih dasar-dasar pemetaan sederhana, seperti pengukuran, penentuan
koordinat, penentuan administrasi situs, penentuan arah mata angin,
pencatatan kondisi lingkungan, hingga penggambaran sketsa.
Pengetahuan mengenai cara-cara mendeskripsikan letak lokasi, bentang
alam, topografi, waktu, hingga cuaca ada baiknya juga diberikan. Pada
saat turun ke lapangan, setiap relawan sebaiknya membawa peta dan
peralatan yang menunjang. Jika peta dan peralatn yang ada terbatas
bisa dibagi berdasarkan kelompok.
Setelah workshop selesai, dilakukan pekerjaan lapangan berupa
pencarian data dan pemetaan. Tahap ini bisa dilakukan dalam berbagai
kemungkinan, tergantung objek penelitian (pemetaan) dan metode yang
diterapkan. Namun, apapun objek dan metodenya, tahap ini seharusnya
memang dijadwalkan dalam jangka waktu yang cukup. Jangan sampai
jangka waktu pencarian data itu terlalu pendek, sehingga banyak hal
yang belum sempat terdata. Penjadwalan harus dilakukan bersama-sama
ula sejak awal karena ada banyak orang dari berbagai latar belakang
dengan kesibukannya masing-masing yang terlibat.
Hal lain yang patut mendapat perhatian adalah peralatan dan
perlengkapan yang harus dibawa selama proses ini. Selain perlengkapan
pencarian data dan pemetaan seperti telah disebutkan di atas, perlu
dipikirkan pula hal-hal seperti kendaraan, konsumsi, hingga base
camp. Hal-hal seperti ini tentunya sangat disesuaikan dengan
kondisi di lapangan dan ketersediaan dana yang ada. Untuk
permasalahan ini, Komunitas Peta Hijau tampaknya sudah cukup paham
dan berpengalaman.
4. Koleksi data gabungan
Koleksi data gabungan ini tentu saja dilakukan oleh seluruh pihak
yang terlibat dalam proses pembuatan Peta Hijau ini. Kelompok kecil
yang telah merumuskan masalah dan membuat desain penelitian harus
terlibat dalam tahap ini bersama-sama seluruh relawan pencari data.
Seperti yang selama ini diterapkan oleh Komunitas Peta Hijau,
proses koleksi data gabungan ini dilakukan minimal dua kali. Hal ini
dilakukan untuk mengakomodasi kemungkinan-kemungkinan jika diperlukan
survai ulang atau pengayaan data kembali. Dalam tahap ini pula
dilakukan diskusi mengenai data-data yang telah ditemukan berdasarkan
metode yang diterapkan dengan parameternya masing-masing. Proses
perdebatan dalam diskusi inilah yang akan memperkaya pengenalan
masyarakat terhadap kawasan tersebut.
5. Analisis data bersama
Analisis ini dilakukan setelah tahap koleksi data bersama berakhir
secara keseluruhan. Proses ini lebih baik dilakukan oleh kelompok
kecil konseptor di atas tadi. Dalam proses ini, setiap anggota
kelompok kecil memiliki peran yang seimbang, sehingga Tim Peta Hijau
tidak bisa menganggap dirinya lebih memiliki otoritas daripada
anggota tim yang berasal dari masyarakat. Akan sangat baik jika
analisis telah selesai, dibuat terlebih dahulu sebuah dummy. Dummy
ini dipresentasikan kepada para relawan pencari data yang terlibat
sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai sebuah mekanisme kontrol dari
para pencari data terhadap data yang mereka peroleh di lapangan.
6. Hasil akhir
Hasil akhir dari seluruh proses ini adalah data-data hasil analisis
dan juga sebuah Peta Hijau. Dalam penyajiannya menjadi sebuah peta,
kelompok kecil yang bertanggung jawab atas seluruh proses ini harus
selalu mengawasi ketika peta itu sedang didesain. Ada kalanya,
desainer peta yang terlibat tidak begitu paham dengan materi peta
yang ia kerjakan, sehingga besar kemungkinannya akan terjadi
kesalahan-kesalahan. Dengan pendampingan yang dilakukan oleh kelompok
kecil tadi dalam proses desain, diharapkan kesalahan-kesalahan itu
tidak akan terjadi.
Penutup
Apa yang telah disampaikan ini adalah sekedar upaya agar Peta Hijau
benar-benar bisa mencapai sasarannya. Inisiatif Komunitas Peta Hijau
untuk membuka cakrawala baru ke arah perkembangan kawasan dengan
melibatkan masyarakat ini bisa lebih mudah terwujud dengan menerapkan
pendekatan partisipatoris secara menyeluruh seperti di atas. Dalam
hal ini, masyarakt tidak lagi hanya menjadi objek, tetapi juga
sebagai pelaku. Dengan demikian, masyarakat mampu melihat
permasalahan yang mereka hadapi dan mampu juga memecahkan
permasalahan tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Robert Chambers
(Prasodjo, 2000), dalam hal ini peneliti hanya bertindak sebagai
fasilitator. Mereka memberikan fasilitas dalam bentuk penyelidikan,
analisis, hasil penelitian, serta pemahamannya. Dengan demikian,
masyarakat akan dapat memiliki dan mempelajari hasil penelitian.
Dalam hal ini, tim peneliti itu adalah Komunitas Peta Hijau. Mereka
harus selalu bertanggung jawab dan kritis. Selain itu, akan selau
terjadi saling tukar informasi dan ide, baik antara masyarakat dengan
fasiitator maupun di antara fasilitator sendiri. Bahkan, bisa juga
dilakukan saling tukar-menukar kegiatan, pelatihan, dan pengalaman.
Dari seluruh proses tersebut tampak jelas bahwa pendekatan ini pada
dasarnya mengutamakan proses belajar dan mengajar, terutama bagi
peneliti (Komunitas Peta Hijau) dan lebih-lebih lagi bagi masyarakat.
Pendekatan partisipatoris seperti ini memang lebih menekankan pada
proses penelitiannya daripada sekedar hasil akhir penelitian.
Berkaiotan dengan upaya penekanan terhadap proses dan tindakan
pembelajaran dalam tahap-tahapnya, pada umumnya sebuah penelitian
partisipatoris akan memperoleh beberapa macam pencapaian. Fernandes
dan Tandon (Prasodjo, ibid.) merumuskannya sebagai berikut:
1. Perubahan dan tindakan sosial langsung merupakan salah satu
hasilnya. Para pelaku dalam proses riset ikut serta dalam usaha
bersama untuk mengubah situasi mereka karena menyadari sebab-sebab
situasi yang mereka alami saat ini, dan menyadari kemampuannya untuk
menjadi pelaku perubahan.
2. Pengetahuan yang bertambah mengenai situasi sosial tertentu
sebagai hasil yang lain. Tidak seperti sistem riset klasik ketika
peneliti dari luar memonopoli pengetahuan, penelitian partisipatoris
menyediakan pengetahuan bagi peneliti dan pelaku dalam masyarakat
tersebut. Hal ini memungkinkan para pelaku memulai proses pengambilan
keputusan yang didasarkan atas pengetahuan itu.
3. Kemampuan yang bertambah di antara para pelaku untuk memahami
dan mengubah situasi mereka sebagai hasil berikutnya. Hal ini
merupakan akibat dari keyakinan diri baru yang mereka peroleh sebagai
hasil dari upaya pencarian pengetahuan yang dikombinasikan dengan
usaha pada tingkat aksi. Orang-orang yang selama ini dianggap tidak
dapat menjadi sesuatu yang lain selain menjadi budak dan pelaksana
perintah (pada tingkat riset: menjadi objek kajian orang luar) kini
dipandang mampu menganalisis dan memahami kenyataan mereka sendiri.
Hal ini bermuara pada gambaran diri yang baru dan pada bertambahnya
kemapuan untuk belajar serta bertindak. Inilah aspek edukatif
pendekatan pertisipatoris ketika para pelaku dalam situasi masyarakat
tertentu mempelajari bagaimana belajar itu sendiri terjadi di dalam
proses tersebut.
Kesemuanya itu adalah masukan bagi proses pembuatan Peta Hijau agar
Peta Hijau itu sendiri tidak menjadi sebuah peta yang biasa saja.
Namun, Peta Hijau menjadi sebuah peta yang memiliki nilai lebih.
Nilai lebih itu berasal sejak dari proses pembuatannya hingga hasil
akhirnya sebagai sebuah peta yang diakui keakuratannya secara ilmiah
walaupun dalam bentuknya yang praktis dan populer. Kesemuanya itu
harus mendapatkan perhatian yang seimbang. Akan sangat disayangkan
jika perhatian lebih ditujukan dalam pencarian data saja, sehingga
proses pemetaannya menjadi kurang terperhatikan; demikan pula
sebaliknya. Setiap tahap adalah sebuah mata rantai yang tidak bisa
dilepaskan. Memang mungkin untuk saat ini hal tersebut masih sulit
untuk diwujudkan secara keseluruhan karena keterbatasan sumberdaya
manusia dan dana. Tetapi, usaha ke arah itu akan selalu dilakukan.
Setahap demi setahap, Peta Hijau langkah per langkah akan semakin
disempurnakan.
Yogyakarta, 22 Agustus 2004
*Anggota Greenmapper Jogja (Komunitas Peta HIjau Yogyakarta)
**Tim Peta Hijau didefinisikan sebagai tim kecil yang berisi para
peneliti dari Komunitas Peta Hijau (greenmapper). Tim kecil ini
hendaknya memiliki sumberdaya manusia yang ahli di beberapa bidang
yang terkait. Masyarakat didefinisikan sebagai masyarakat yang
tinggal di kawasan yang akan dipetakan yang terlibat dalam proses
pemetaan ini dan juga masyarakat lain yang merupakan relawan lepas
yang berasal dari berbagai wilayah dan latar belakang. Sejak awal
harus sudah dirumuskan bagaimana bentuk keterlibatan masyarakat,
apakah setiap tahap memerlukan keterlibatan setiap relawan atau ada
tahap-tahap tertentu yang hanya memerlukan keterlibatan wakil-wakil
relawan (tidak semuanya). Sebagai contoh, tahap perumusan masalah
hanya melibatkan wakil-wakil masyarakat relawan, sedangkan tahap
pencarian data di lapangan melibatkan seluruh masyarakat relawan.
Posted at 08:16 pm by greenmapper
|
|
|
 |
 |
|  |
 |
Selamat datang di blog PETA HIJAU MANDALA BOROBUDUR
|
 |
 |
|  |
|
|
 |