PETA HIJAU MANDALA BOROBUDUR


May 24, 2005
Laporan Kelompok 3 untuk 22 Mei 2005

Laporan kelompok 3

22 Mei 2005 (khusus hari ini wilayah yg disurvey adalah dusun Janan)

Surveyor: Sogok, Sinta, Yani, Wiwit, Jaim minus Reina dan Raty

Pemandu: Bp. Riharto
Wilayah: Janan, Jayan (Gejayan) dan Kaliabon

 

1)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Parkir Andong
  4. Dusun Janan, depan Pasar Borobudur, Jl. Pramodhya Wardani
  5. SDB
  6. Merupakan tempat parkir khusus untuk Andong yang terletak di depan Pasar Borobudur. Di sini Andong diparkir berjejer dengan menambatkan kuda di tiang. Kepala kuda berada di atas pembatas antara jalan dengan trotoir yang ditinggikan. Di sini kuda bisa beristirahat sambil diberi makan atau minum oleh kusirnya tepat di atas pembatas jalan ini.. 
  7. Foto, ploting peta

2)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Sub Terminal Angkot
  4. Dusun Janan, belakang pasar Borobudur
  5. SDB
  6. Merupakan terminal untuk angkot (warna kuning, kecil) yang melayani 2 jalur (jalur desa), yaitu Sedengan dan Gilipurno 
  7. Foto, ploting peta

3)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Pangkalan Minyak
  4. Dusun Janan, di samping sub terminal
  5. SDB
  6. Merupakan tempat pangkalan minyak, mendistribusikan minyak tanah dari truk tangki minyak pada pedagang pengecer, ada di daerah pasar.
  7. Foto, ploting peta 

4)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Pos Ojek
  4. Dusun Janan, belakang pasar Borobudur, di seberang sub terminal angkot
  5. SDB
  6. Merupakan sarana transportasi yang melayani penduduk, terutama untuk jalan-jalan yang tidak dilewati kendaraan umum (angkot).
  7. Foto, ploting peta

5)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Kios penjualan bibit tanaman
  4. Dusun Janan, belakang pasar Borobudur
  5. SDB
  6. Kios ini khusus menjual bibit tanaman buah-buahan dan tanaman lainnya, seperti mahkota dewa, alpokat, merica, nangka, petai, sawo, rambutan, mangga, durian,manggis, jambu, sukun, jeruk.
  7. Foto, ploting peta

6)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Pusat Pengumpul Kayu
  4. Dusun Janan, belakang pasar Borobudur
  5. SDB
  6. Tempat ini merupakan tempat penjualan kayu dan bambu potongan yang digunakan untuk kayu bakar, lanjaran (untuk merambatkan tanaman), usuk reng. Kayu yang dikumpulkan di sini berasal dari Pegunung Menoreh. Adapun jenis bambu yang dijual antara lain bambu wulung, bambu legi, bambu gombong. Distribusi penjualan kayu ini sampai ke daerah Muntilan dan Magelang. Pembeli bisa membawa sendiri kayu yang dibeli ataupun minta diantarkan. Harga bambu per ikat Rp. 9000,-, kayu bakar Rp 7000,- - Rp. 8000,- tergantung jenis dan ukuran kayunya
  7. Foto, ploting peta

7)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Penjual Makanan Ternak
  4. Dusun Janan, di kios belakang pasar
  5. SDB
  6. Merupakan kios yang menjual makanan ternak, khususnya unggas. Komoditi yang dijual antara lain kroto, jagung, pur, katul, kacang hijau, dll.
  7. Foto, ploting peta

8)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Kios Pandai Besi
  4. Dusun Janan, belakang Pasar Borobudur, belokan kedua belok kiri
  5. SDB
  6. Kios sederhana terbuat dari bambu berlantaikan tanah ini menjual alat-alat pertanian seperti linggis, sabit, cangkul dan parang. Selain menjual alat-alat tersebut, kios ini juga melayani jasa perbaikan alat-alat pertanian. Buka hanya di hari pasaran (wage dan legi), mulai pukul 07.00 – 13.00 WIB. Sumber: wawancara dengan Bapak Maryoto, Bapak Mukri dan Bapak Muji
  7. Foto, ploting peta

9)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Tempat pengumpul barang-barang bekas
  4. Dusun Janan, di deretan kios pandai besi
  5. SDB
  6. Merupakan tempat pengumpulan barang-barang bekas seperti karung plastik, plastik, karung semen, botol kaca, kardus dan besi. Pemilik usaha ini telah memulai usahanya sejak tahun 1979. Sumber: wawancara dengan Bapak Kosim 
  7. Foto, ploting peta

10)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Lapangan voli
  4. Dusun Janan, di belakang kios tanaman
  5. SDB
  6. Lapangan voli yang berada di tengah-tengah kerimbunan pohon bambu ini terbuat dari tanah. Digunakan oleh penduduk sekitar untuk berlatih olahraga.
  7. Foto, ploting peta

11)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Tempat pembuatan mebel milik Pak Solikhin
  4. Dusun Janan
  5. SDB
  6. Merupakan usaha pembuatan mebel berskala kecil. Menerima pesanan pembuatan meja, tempat tidur, bufet, dll. Pemesan bisa membawa bahan kayu sendiri. Mebel dibuat jika ada pesanan saja. Sumber wawancara: Pak Solikhin 
  7. Foto, ploting peta

12)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Tempat pembuangan sampah liar
  4. Dusun Janan
  5. SDB
  6. Lahan ini merupakan tempat pembuangan sampah liar yang sudah jarang dipakai lagi. Digunakan oleh penduduk sekitar untuk membuang berbagai macam sampah. Berada di tengah-tengah pemukiman sehingga tampak kurang sedap dipandang mata dan tidak sehat.  
  7. Foto, ploting peta

13)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Pos Kamling
  4. Dusun Janan
  5. SDB
  6. Tempat untuk posko keamanan lingkungan setempat. Terbuat dari kayu berukuran 3x3 meter.
  7. -

14)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Pondok Wisata Damai
  4. Dusun Janan
  5. SDB
  6. Merupakan penginapan milik penduduk yang baru dibuka sejak 1 ½ tahun yang lalu. Ada 7 kamar (2 kamar sedang dalam pembangunan). Harga kamar berkisar antara Rp. 100.000,- sampai Rp.150.000,- per malam, untuk single maupun double bed. Konsumen utama penginapan ini adalah wisatawan, baik asing maupun domestik. Terisi penuh jika ada acara-acara khusus ataupun Hari Raya seperti Waisak, Lebaran dan Natal.  Sumber: wawancara dengan Bapak Wijang
  7. Foto, ploting peta

15)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Penginapan Ardhian
  4. Dusun Janan
  5. SDB
  6. Merupakan tempat penginapan milik penduduk. Terletak tak jauh dari Pondok Wisata Damai. 
  7. Foto, ploting peta

16)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. JFC (Janan Foot Ball Club)
  4. Dusun Janan, di dekat Penginapan Ardhian
  5. SDB
  6. Merupakan sekretariat persatuan sepak bola desa Janan 
  7. Foto, ploting peta

17)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Rumpun Bambu
  4. Dusun Janan, di belakang penginapan Ardhian
  5. SDA
  6. Berada di lahan kosong di tengah permukiman penduduk
  7. Foto, ploting peta

18)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Posko Tanker
  4. Dusun Janan
  5. SDB
  6. Merupakan organisasi yang didirikan oleh penduduk untuk membantu keamanan warga sekitar yang bersifat sukarela dan mandiri. 
  7. Foto, ploting peta

19)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. Kamar Mandi Umum (WC Umum)
  4. Dusun Janan, sebelah Posko Tanker
  5. SDB
  6. Merupakan kamar mandi yang disewakan oleh penduduk untuk turis yang singgah di Borobudur. Mematok harga Rp. 1000,- untuk buang air kecil dan Rp. 1500,- untuk mandi 
  7. Foto, ploting peta

20)

  1. 3
  2. 22 Mei 2005
  3. BKK Borobudur (Bank Kredit Kecamatan Borobudur)
  4. Dusun Janan, depan ayam bakar Pakdhe
  5. SDB
  6. Bank yang melayani perkreditan untuk masyarakat sekitar kecamatan Borobudur.
  7. Foto, ploting peta

 


Posted at 11:07 pm by greenmapper
Make a comment  

kelompok songo coy...

LAPORAN KELOMPOK SONGO

HARI 1 ( 8 Mei 2005 )


SURVEYOR

Putri (co.)

Ikhsan Prabowo

Rohman

Lieke

Pemandu  : Ariswara Sutomo

 

 

No.

Nama Objek

Jenis Objek

Deskripsi

1.

Toko Kelontong

Bangunan Bernilai Sejarah

Merupakan bangunan tempat tinggal satu-satunya didusun ini sebelum tahun 1990. dikarenakan tuntutan ekonomi, berubah fungsi menjadi sebuah bangunan bernilai ekonomis. Bangunan ini terletak disebelah simpang 3 jalan. Simpang jalan tersebut sebagai cikal-bakal penamaan desa cawangsari.

2.

Gereja Santo Petrus

Bangunan Penting

Gereja pertama bekas Kapel tahun 1960-an.

3.

Tk-SD Kanisius

Bangunan Bernilai Sejarah

Tempat sekolah biasa, namun dulu pernah mengadakan program penghijauan untuk anak (children Forest Program) OISCA – CFP SD Kanisius, bermula tahun 1962 sampai tahun 1992 bekerjasama dengan KNPI. Dengan jenis tanaman berupa akasia, nyamplung dan Sono keling yang ditanam dikanan-kiri jalan masuk Borobudur.

Dikarenakan adanya program pelebaran jalan oleh pemerintah, pohon-pohon tersebut terpaksa ditebang, namun masih terdapat sisa-sisa pohonnya, antara lain pohon sonokeling yang terletak dipinggir jalan.

4.

Hotel Saraswati

Bangunan Penting

Hotel yang dimiliki oleh Ny. Sri a. Yati, merupakan hotel pertama di Borobudur yang memberi pelayanan kepada turis asing. Design mirip cadle indis di Inggris. Dikarenakan kejatuhan pesawat TNI AU karena suatu kecelakaan, bangunan ini direnovasi yang nantinya menimbulkan suatu permasalahan. Diawali dengan dijualnya hotel kepada Bu Warsono, dimana Ijin IMB tidak dapat diperoleh, yang dikarenakan design yang tidak sesuai dengan masyarakat, dan tidak adanya gardu listrik khusus di tempat ini.

5.

Rumah

Bp. Harjo Utomo

Bangunan Bernilai Sejarah

Rumah ini merupakan bekas rumah Mantan Glondong (kepala Desa) Borobudur. Rumah dibangun tahun 1900-an, dengan bentuk awal berupa pendopo yang terbuka dengan tiang kayu. Sekarang rumah tersebut ditempati oleh salah seorang anaknya (Sutanto).

6.

Jalan Desa

Jalur Bersejarah

Menurut pemandu, jalan ini dahulu merupakan jalur utama masuk Candi Borobudur. Jalur ini juga menghubungkan secara langsung antara Borobudur dengan candi Pawon. Dikanan-kiri jalan terdapat candi setinggi dagu orang dewasa.

Dikarenakan perubahan waktu, cadi disepanjang jalur tersebut hancur ketika perang pada jaman pendudukan Jepang. Selain itu fungsi jalan juga berubah dan sekarang menjadi jalan kolektor biasa.

7.

Saluran Pembuangan Candi

Sumber pencemaran air

Tempat pembuangan limbah dari objek wisata yang bersumber dari sampah-sampah pedagang candi, sebagai sebuah system drainase yang buruk, yang dialirkan ke saluran irigasi. Hal ini dibuktikan dengan bekas tumpukan sampah pada ujung-ujung saluran. Hal ini berakibat mencemari saluran irigasi sebagai output alirannya yang nantinya juga mencemari kualitas air irigasi, walaupun pada musim kemarau saluran ini tidak banyak berfungsi.

8.

Recyde Barang Bekas

Daur Ulang

Tempat penampungan material yang dapat diolah ulang. Tempat ini dikelola oleh Ibu Haryatun selama sekitar 18 tahun. Material-material yang dapat ditampung antara lain berupa kertas, plastic, dan kaleng. Dari sini, material-material tersebut dikirim ke tempat pengolahan, al. wonosobo, dan semarang apabila dikira sudah dapat memenuhi criteria (banyaknya barang).

 

 

 

 

 


HARI 2 ( 22 Mei 2005 )

SURVEYOR

Putri (co.)

Ikhsan Prabowo

Wahyu Sasongko

Dini Natalia

Pemandu

 Bp. Ikhwan & Ibu, Yuni

 

 

Dusun Jowahan - Wanurejo

No.

Nama Objek

Jenis Objek

Deskripsi

1.

Paguyuban Ngudi Utomo

Organisasi Budaya

Merupakan sebuah organisasi Pengayatan (Org. kepercayaan Kepada Tuhan YME) dengan orientasi kegiatan untuk mengabdi kepada masyarakat yang menekankan pada perdamaian dan ketentraman kehidupan.

Organisasi ini didirikan di Turi-Sleman oleh Marto Umoyo tahun 1976 dengan penekanan kepercayaan kepada hal-hal kejawen.

Bapak J. Ch. Suwarso Pr. atau sering dikenal sebagai Romo Suwarso adalah sebagai pimpinan penerus/ cabang Ngudi Utomo di Magelang dan sebagai secretariat organisasi pengayat Kab. Magelang dibawah naungan Dinas Pariwisata dan Budaya. Sekretariat ini membawahi 8 organisasi sejenis.

2.

Rumah Joglo Bp. Tohari

Bangunan Penting

Bangunan Tradisional khas Jawa, dengan atap berbentuk Tumpang Sari. Telah direnovasi sekali tahun 1970-an yang berakibat merubah dinding depan yang tadinya “gebyok” menjadi diding tembok.

Hal yang menarik lainnya, adalah rumah ini merupakan salah satu rumah dalam dusun Begangan yang terintegrasi dalam dusun Jowahan karena sedikitnya KK yang ada.

3.

Kuburan Desa

Bangunan bernilai sejarah

Sebuah kuburan yang dulunya merupakan tempat makam golongan “darah biru”, dimana orang yang tidak termasuk ditandai dengan pohon asem diatas kuburannya.

Dikarenakan bertambahnya waktu dan orang yang meninggal pun banyak, maka kuburan tersebut sekarang tidak dibedakan lagi. Namun, bukti pernyataan awal yang berupa pohon asem masih ada  di tempat tersebut.

 

Dusun Barepan - Wanurejo

No.

Nama Objek

Jenis Objek

Deskripsi

1.

Deres Armak

Craft & Interior

Home Industri dan

Bangunan artistic

Pemilik Industri ini bernama Deres, yang digunakan sebagai nama dari perusahaan rumah tangga ini. Industi ini memproduksi bunga dan tas. Sumber bahan bakunya berasal dari limbah pertanian (ex :kulit jagung dan serbuk gergaji)  dan industri (kain blaco). Industri ini pernah mewakili Magelang dalam perlombaan souveneer khas Jawa tengah di Semarang dengan mengirimkan 3 hasil karya berupa tas, kerajinan bunga, dan vas (tidak diproduksi lagi), dan menjadi juara I untuk karya yang berupa tas. Omzet industri ini berfluktuatif tergantung dari pasaran.

Bangunan ini didirikan sejak tahun 1990, yang dibangun sendiri oleh Bapak  Parno (73 th.). bahan bangunan merupakan bahan-bahan alami yang didesain sedemikian rupa dengan menekankan pada unsure praktis (tempat sapu), fungsional (meja angkat), dan tak memakan tempat (jendela). Menurut keponaknnya, bangunan ini merupakan bangunan sejenis dengan bangunan yang ada didaerah Purwodadi, dengan cirri khas berpintu pendek.

 

 

 

 

 

Dusun Cawang Sari - Borobudur

No.

Nama Objek

Jenis Objek

Deskripsi

1.

Jaker Borobudur

Organisasi Penting

Belum begitu banyak yang diketahui mengenai organisasi ini. Bertempat di Rumah Mr. Jack sekaligus sebagai Ketua Jaker. Organisasi ini berkepentingan untuk mengembangkan dan melanjutkan kelestarian Borobudur. Organisasi ini menurut Pemandu memiliki hubungan dengan pemerintah, baik daerah maupun pusat.

Jaringan ini saat ini sedang mengajukan proposal ke pmemerintah pusat untuk pengembangan 8 desa penyangga borobudur dengan konsep 1 village 1 product. Selain itu, sekarang sedang dikaji mengenai konsep arahan pengembangan dan kepariwisataan Borobudur dengan menggunakan konsep Mandala yang menekankan pada aspek keseimbanngan.

 

 

 

 

 


Posted at 06:21 am by greenmapper
 




May 19, 2005
laporan dusun tamanan, maitan dan tanjungan

Lapor!! Kami dari pasukan garis keras #4 melaporkan dari barat( tamanan, maitan, dan tanjungan) Potensi utama yang berhasil kita identifikasi dari hasil pengintaian setengah hari adalah sebagai berikut : 1. Gunung Bakal Merupakan gunung yang merupakan bakal dari gunung yang merupakan potensi terpendam desa tanjungan karena tidak diekspos, potensi dari gunung bakal adalah sebagai berikut : - Pemandangan yang indah dari puncak gunung bakal terhadap borobudur. pokoknya candi borobudur keliatannya keren banget dech, gitu loch. - Kuburan kuno yang merupakan makam pendiri dari ketiga desa tersebut. 2. Rebanan Merupakan kesenian tradisional yang dilaksanakan rutin dalam beberapa periode waktu ( gak tau pasti, lupa ditanya ) biasa dibarengi dengan rapat warga atau rembug desa. 3. Nderes bunga kelapa Adalah penyadapan sari bunga kelapa untuk kemudian dijadikan gula merah.

Posted at 07:05 am by greenmapper
Make a comment  




May 17, 2005
Data SURVEY Kelompok enam

DUSUN KURAHAN
1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Sanggar
4. Dusun Kurahan, Kecamatan Borobudur
5. SDB
6. Merupakan Sanggar Tarian Rakyat. Di sanggar ini masih berkembang kesenian tarian tradisional Dayakan. Tarian ini diiringi oleh musik tradisional dan kontemporer. Kini sanggar ini dikelola oleh Pak Ujang. Sampai sekarang sanggar ini banyak diundang ke beberapa event di berbagai daerah. 7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Yayasan panti Asuhan NU
4. Dusun Kurahan, Kecamatan Borobudur
5. Lembaga Sosial
6. Menampung anak yatim piatu di Borobudur dan sekitarnya.
7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

DUSUN KELON
1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Home industri Tempe
4. Dusun Kelon, Kecamatan Borobudur
5. SDB (ekonomi)
6. Usaha ini dikelola oleh keluarga Sutarjo yang sudah ditekuni sejak 3 tahun lalu. Pegawainya berjumlah 3 orang yang semuanya merupakan anggota keluarga Sutarjo. Produksi Tempe yang dihasilkan kurang lebih 75 kg/hari. Wilayah pemasarannya hanya di sekitar Borobudur. Hal yang menarik adalah bahan bakar yang digunakan untuk merebus kedelai adalah "grajen" atau limbah gergaji kayu.
7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Rumah asli berbentuk "Kampung"
4. Dusun Kelon, Kecamatan Borobudur
5. SDB
6. Rumah asli ini sudah jarang ditemui. Yang kami temui hanya sekitar 3-4 rumah. Rumah ini berdinding gedek atau anyaman bambu.
7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Ternak Sapi, Kambing, Ayam
4. Dusun Kelon, Kecamatan Borobudur
5. SDB(ekonomi)
6. Ternak hewan ini dipelihara pribadi oleh beberapa keluarga, dan menjadi sumber penghasilan.
7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Rumah Pak Kadus
4. Dusun Kelon, Kecamatan Borobudur
5. SDB
6. Digunakan untuk tempat berkumpul masyarakat. Biasanya digunakan untuk ritual menyembah arwah nenek moyang. Selain itu juga digunakan sebagai tempat memberi informasi kepada masyarakat.
7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

DUSUN JLIGUDAN
1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Candi Boto
4. Dusun Jrigudan, Kecamatan Borobudur
5. SDB (Cagar Budaya)
6. Reruntuhan Candi Boto ini ditemukan oleh masyarakat setempat. Pernah dilakukan penggalian, namun tidak sempat terselesaikan. Akhirnya kini Candi tersebut kembali tertimbun tanah dan diatasnya telah ditanami pepohonan.
7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

1. 6
2. 8 Mei 2005
3. "Sumber" mata air
4. Dusun Jrigudan, Kecamatan Borobudur
5. SDA
6. Merupakan sumber mata air yang tidak pernah kering sepanjang tahun. Mata air ini digunakan untuk mandi dan mencuci bagi masyarakat sekitar.
7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Home Industri Tahu
4. Dusun Jrigudan, Kecamatan Borobudur
5. SDB (ekonomi)
6. Home industri ini dikelola oleh Bu Tami dan merupakan usaha keluarga.
7. Ploting peta kelompok 6 dan foto - foto.

1. 6
2. 8 Mei 2005
3. Kelon - Jrigudan
4. Kecamatan Borobudur
5. SDB
6. Dua desa ini memiliki keunikan tersendiri. Dari sisi batas administratif, dusun ini merupakan dua dusun yang berbeda. Namun kedua desa ini dipimpin oleh seorang Kepala Dusun.
7. Ploting peta kelompok 6

Posted at 10:24 pm by greenmapper
Make a comment  




May 14, 2005
KELOMPOK LORO !!!

Manual Report kelompok loro Grinmep Borobudur

Dusun Kenayan dan Bogowanti Lor



GreenMapper Loro :

Zaki - Planology

Arya - Physical & Environmental Geography 
Sigit - Remote Sensing & Cartography

Ook - Archaeology 


 Pemandu2 Brondong yang ruamah tenan :

Mas Bowo (Ekonomi UII)
Mas Sukma (AKPER),
dan satu lagi temen mereka (lupa namanyah!)

 

 

   

      DUSUN KENAYAN

  1. 2
  2. Minggu, 8 Mei 2005
  3. Rumah asli bentuk ‘Kampung’
  4. Dusun Kenayan, Rt 06 No 22-24, Kecamatan Borobudur
  5. SDB
  6. Merupakan komplek rumah asli bentuk Kampung yang hanya berjumlah 4 buah terletak di tengah pemukiman. Rumah Kampung ini berdinding bambu (gedhek). Selain sebagai tempat tinggal, rumah-rumah tersebut juga digunakan sebagai sentra kerajinan kulit berupa tas dengan beberapa pengrajin saja, kemudian hasilnya dijual ke Borobudur.
  7. Ploting peta kelompok dua, poto-poto

  

  1. 2
  2. Minggu, 8 Mei 2005
  3. Pemakaman umum
  4. Dusun Kenayan
  5. SDB
  6. Merupakan pemakaman umum yang di dalamnya terdapat salah satu makam sesepuh Dusun Bogowanti yaitu Mbah Bogo. Di sekelilingnya terdapat kebun-kebun milik penduduk setempat.
  7. Ploting peta kelompok dua, poto-poto

  

  1. 2
  2. Minggu, 8 Mei 2005
  3. Areal Persawahan dan kebun rambutan & pepaya
  4. Dusun Kenayan
  5. SDA
  6. Areal pertanian yang berupa sawah-sawah dan disekitarnya terdapat kebun-kebun rambutan & pepaya milik penduduk.
  7. lupa je ! kayaknya dah di plot sama dipoto ko’ hehe…

 

DUSUN BOGOWANTI LOR

  1. 2
  2. Minggu, 8 Mei 2005
  3. Masjid Al Muttaqien
  4. Jln. Raya Purworejo, Dusun Bogowanti Lor
  5. SDB
  6. Bangunan tempat beribadah yang cukup besar ini terletak di pinggir jalan raya Purworejo. Ada semacam perkumpulan pemain rebana di masjid ini.
  7. Ploting peta kelompok dua, poto-poto.

  

  1. 2
  2. Minggu, 8 Mei 2005
  3. Penghijauan dan taman-taman kecil sepanjang jalan
  4. Jln. Raya Purworejo, Dusun Bogowanti Lor
  5. SDA
  6. Penghijauan dan taman-taman kecil ini terletak sepanjang jalan raya Purworejo yang ditata dengan apik. Di sisi sebelah selatan jalan terdapat sederetan pohon pepaya, yang sengaja ditanam oleh penduduk untuk kerindangan jalan. Dipilih pohon pepaya karena cepat tumbuh dan cepat berbuah pula…lumayan bisa metik buat oleh-oleh orang rumah klo pas lewat situ soale gratis hehe….
  7. Poto-poto

  

  1. 2
  2. Minggu, 8 Mei 2005
  3. Pasar Hewan Borobudur
  4. Jln. Raya Purworejo, Dusun Bogowanti Lor
  5. SDB
  6. Pasar hewan setempat yang masih difungsikan. Hewan yang biasa dijual adalah sapi, kambing, dan kawan-kawannya.
  7. Ploting peta kelompok dua, poto-poto

Poto-poto bisa diakses langsung di http://pg.photos.yahoo.com/ph/arieenviro/my_photos 


 


                                                                  _Ces rong !



Posted at 12:16 am by greenmapper
Make a comment  




May 12, 2005
KELOMPOK 7 - hasil 8 mei 2005

Kelompok VII: untuk sementara dari kelompok 7 masih mempelajari area, dan mungkin untuk per item kita belum dapat detil. Jd untuk data mungkin masih belum dapat dipisahkan per item tapi per jenis aja dulu ya

1. 7
2. Minggu, 8 Mei 2005
3. Kebon Bambu
4. Dusun Bumi Segoro
5. Sumberdaya Alam (SDA)
6. Sebagian besar tanah kosong dipenuhi oleh pohon bambu yang dibiarkan tumbuh begitu saja. Sekarang pohon-pohon bambu ini sudah jarang dimanfaatkan lagi karena industri kerajinan bambu yang mulai ditinggalkan.
Nara sumber: Pak Basiyo
7. Ploting peta

1. 7
2. Minggu, 8 Mei 2005
3. Sumber air (belik 3 buah)
4. Dusun Bumi Segoro
5. Sumberdaya Alam (SDA)
6. Terdapat 3 sumber air dalam bentuk belik/sendang yang dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai tempat untuk mandi dan cuci. 2 dari 3 sumber air ini memiliki pancuran. Seperti daerah lain disekitar Borobudur, daerah ini juga memiliki satu masalah yang sama yaitu kekeringan di masa kemarau. Air hanya ada di daerah2 yang relatif rendah. Air irigasi yang berasal dari Salaman juga sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat untuk menanam padi sepanjang tahun.
Nara sumber: Pak Basiyo
7. -

 

1. 7
2. Minggu, 8 Mei 2005
3. Sekolah
4. Dusun Bumi Segoro, Dusun Sabrang Rowo
5. Sumberdaya Buatan (SDB)
6. Dusun Bumi Segoro: terdapat 2 TK dan satu SMP Ma’arif.
    Dusun Sabrang Rowo: terdapat TK, 4 SD, SMEA, STM. Dahulu tempat ini memiliki fasilitas yang lengkap dari TK, SD, SMP, SMA hingga SPG. Namun kemudian dipindahkan ke sebelah Utara taman Borobudur.
Nara sumber: Pak Basiyo, Pak Kyai dan anaknya
7. -

 

1. 7
2. Minggu, 8 Mei 2005
3. Pesantren
4. Dusun Bumi Segoro
5. Sumberdaya Buatan (SDB)
6. Dusun Bumi Segoro memiliki nilai agama Islam yang masih cukup kuat. Dengan mayoritas penduduk adalah muslim, warga disini memiliki 2 aliran yang hampir sama dominannya yaitu Muhammadiyah dan NU. Di daerah ini pula terdapat sebuah pesantren tempat banyak warga baik tua maupun muda berkumpul dan menampah pengetahuan tentang agama. Kesenian Rebana juga sering diadakan di pesantren ini.
7. -

 

1. 7
2. Minggu, 8 Mei 2005
3. Industri kerajinan
4. Dusun Bumi Segoro
5. Sumberdaya Buatan (SDB)
6. Di dusun Bumi segoro masih terdapat 1 atau 2 titik industri kerajinan. Sedangkan di dusun Sabrang Rowo sudah tidak lagi memiliki industri kerajinan. Industri kerajinan terakhir adalah bambu yang kini sudah tidak aktif lagi. Banyak industri kerajinan yang gulung tikar akibat merasa sudah tidak berhasil. Hal ini yang sering menjadi satu kelemahan warga disekitar Borobudur.
7. -

 

1. 7
2. Minggu, 8 Mei 2005
3. Fasum (transportasi)
4. Dusun Bumi Segoro
5. Sumberdaya Buatan (SDB)
6. Angkutan dari dan ke dusun ini biasanya menggunakan kendaraan pribadi. Namun terdapat juga kendaraan umum plat hitam yang juga beroperasi di dusun-dusun disekitar Borobudur.
7. -

 

 THANKS!!!


Posted at 09:29 pm by greenmapper
Make a comment  

PETA HIJAU Langkah Per Langkah

Elanto "Joey (Jw: Joyo)" Wijoyono*

 

Pendahuluan

 

Pemetaan merupakan pekerjaan pengukuran suatu daerah untuk
menentukan unsur-unsur (jarak dan sudut) titik-titik atau bangunan-
bangunan yang ada dalam jumlah yang cukup, sehingga dapat dibuat
bayangan atau gambar dengan skala tertentu dari seluruh isi daerah
yang dipetakan. Tujuan pemetaan sendiri secara umum adalah untuk
menghasilkan peta yang bisa dipertanggungjawabkan, baik secara
administratif, geografis, astronomis, edukatif, informatif, dan
praktis. Selain itu, peta adalah sebuah penyajian secara
matematis informasi-informasi spasial (spatial) dari muka planet
secara katografis dan melalui simbol-simbol. Menurut A.H.A. Hogg,
selain dapat mempermudahinterpretasi, sebuah peta juga bisa membantu
proses penyimpanan dan penyelamatan informasi dalam jangka panjang
dan berkesinambungan (Hascaryo, 1999). Berbagai disiplin ilmu telah
melakukan pekerjaan pemetaan, misalnya geodesi, geografi, geologi,
kehutanan, pertanian, teknik sipil, dan arkeologi.
Untuk keperluan praktis dan populer pun pemetaan juga dilakukan,
seperti yang tampak dalam Peta Hijau. Peta Hijau jelas merupakan
sebuah peta. Mengapa peta? Hal itu dikarenakan Peta Hijau berhubungan
erat dengan lingkungan dan materi budaya, dan keduanya tidak bisa
dilepaskan.

Sebagai sebuah data yang bersifat piktorial, peta itu memiliki
kerangka yang membedakannya dengan gambar atau sketsa. Hal itulah
yang menjadi dasar sebuah peta dalam menyajikan detil-detil yang
berhubungan dengan fungsi peta itu sendiri. Kerangka peta adalah
bagian yang sangat vital pada proses pemetaan permukaan bumi (surface
mapping). Kesalahan dalam proses pemebuatan hingga penentuan kerangka
tersebut akan dapat mengahsilkan suatu peta yang berbeda dengan
kenyataan di lapangan. Interpretasi yang dihasilkan pun menjadi tidak
sesuai pula (ibid.). Walaupun sifatnya tidak terlalu atau tidak
mengarah ke sifat yang ilmiah, Peta Hijau pun
seharusnya mengikuti proses pemetaan yang bersifat universal. Hal ini
disebabkan oleh arti penting sebuah peta yang dalam proses
pembuatannya memerlukan berbagai perhitungan, pertimbangan, dan
perbaikan-perbaikan. Proses pembuatan Peta Hijau selama ini tampaknya
belum   terlalu   memperhatikan  hal-hal sangat mendasar seperti itu.
Akibatnya, peta yang dihasilkan sering memberikan informasi keletakan
titik-titik situs yang kurang akurat. Usaha-usaha untuk meninjau
kembali titik-titik tersebut menjadi sulit karena apa yang tertera
di peta seringkali tidak sesuai dengan yang ada di kenyataan (di
lapangan).


Permasalahan
Perkembangan metode pemetaan sudah sangat cepat. Metode pemetaan
saat ini pun sudah sangat maju. Proses-proses pemetaan saat ini sudah
tidak lagi dilakukan dengan metode-metode sederhana yang hanya
mengandalkan pada kompas. Berbagai peralatan canggih untuk keperluan
pengukuran yang lebih baik dan akurat saat ini sudah banyak dipakai,
bahkan hingga alat-alat ukur digital.Komunitas-komunitas Peta Hijau
sendiri masih kesulitan untuk mengikuti perkembangan metode pemetaan
itu. Hal itu disebabkan oleh berbagai hal, antara lain sumberdaya
manusia yang kurang terlatih dan keterbatasan dana. Pengetahuan-
pengetahuan dasar mengenai peta dan pemetaan masih kurang
dipahami oleh para greenmapper. Karena peta merupakan penggambaran
situasi di permukaan bumi, pengetahuan-pengetahuan seperti itu
seharusnya mutlak dikuasai. Peta Hijau harus bisa memberikan
informasi yang jelas dan akurat dengan menggunakan peta. Apalagi
media ini dipilih sendiri dalam upayanya untuk menyajikan informasi-
informasi mengenai situasi lingkungan dan budaya di suatu wilayah.

Peta Hijau memang ditujukan untuk keperluan praktis. Namun, tidak ada
salahnya jika Peta Hijau juga mampu tampil sebagai peta yang tidak
hanya mengejar sisi praktisnya, tetapi juga mampu pertanggungjawabkan
secara ilmiah, sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang-bidang
keilmuan pula. Kemampuan Peta Hijau untuk bisa menembus sekat-sekat
dimensi  bidang ilmu ini akan menambah nilai peta yang dihasilkannya.
Hal ini harus segera dijadikan fokus perhatian agar Komunitas Peta
Hijau bisa semakin maju dan peta-peta yang dihasilkannya bisa
memberikan manfaat yang lebih banyak.


Proses pembuatan Peta Hijau
Pembuatan Peta Hijau merupakan sebuah proses penyusunan peta tematik
mengenai lingkungan dan budaya di suatu kawasan. Salah satu hal yang
menjadi ciri Peta Hijau adalah proses pembuatannya yang melibatkan
relawan dari berbagai macam latar belakang termasuk masyarakat lokal
yang wilayahnya akan dipetakan. Dengan proses pelibatan relawan
seperti ini diharapkan dapat membuka cakrawala baru mengenai kondisi
lingkungan dan budaya di suatu kawasan, sekaligus mengenai arah
perkembangannya sendiri yang diharapkan bisa lebih arif, tertata,
dan berkelanjutan.

Pekerjaan pemetaan sendiri merupakan pekerjaan yang mutlak harus
dilakukan di lapangan dalam proses pengumpulan datanya. Oleh karena
itu, proses ini dengan kata lain bisa dimasukkan ke dalam kategori
penelitian survai. Penelitian survai yang dilakukan ini menjadi
istimewa karena memiiki hasil akhir berupa peta dan prosesnya pun
memerlukan pendekatan tersendiri. Oleh karena itu, di bawah ini akan
diuraikan bagaimanakah proses pembuatan Peta Hijau itu dan apa saja
yang diperlukan atau dilakukan untuk menghasilkan sebuah Peta Hijau.

Tujuan survai dapat merupakan pengumpulan data secara deskriptif
saja, seperti keadaan perumahan, pemilikan tanah, jumlah jamban, dan
lain-lain. Tujuannya dapat pula lebih jauh dari itu, bersifat
menerangkan atau menjelaskan, seperti mempelajari fenomena sosial
dengan melihat hubungan variabel penelitian. Jadi, penelitian survai
dapat bertujuan praktis, tetapi dapat juga sangat teoritis
(Singarimbun, 1981). Hal itu tidak menyimpang dari tujuan pembuatan
Peta Hijau sendiri yang pada dasarnya juga merupakan sebuah
penelitian yang akan menghasilkan sebuah database mengenai tema
tertentu yang berkaitan dengan fenomena-fenomena lingkungan dan
budaya. Dengan adanya database hasil penelitian, dari situ akan bisa
dihasilkan berbagai macam Peta Hijau dengan tema tertentu.

Penelitian sendiri merupakan suatu proses yang panjang. Menurut
Singarimbun (ibid.), suatu penelitian berawal dari minat untuk
mengetahui fenomena tertentu. Titik tolak yang sebenarnya bukanlah
metodologi penelitian, tetapi kepekaan dan minat yang ditopang oleh
akal sehat (common sense). Dalam melakukan suatu penelitian, ada
tahap-tahap yang harus ditempuh agar bisa tercapai hasil penelitian
yang diharapkan. Tahap-tahap itu perlu dilaksanakan dengan kritis,
cermat, dan sistematis. Perlu diperhatikan bahwa setiap langkah sama
pentingnya karena tiap tahap adalah suatu mata rantai. Secara
sederhana, langkah-langkah yang biasanya ditempuh dalam
pelaksanaan survai adalah sebagai berikut:
1.      merumuskan masalah penelitian dan menentukan tujuan survai
2.      menentukan konsep, hipotesis, dan menggali literatur
3.      pengambilan sampel
4.      pembuatan kuesioner
5.      pekerjaan lapangan (termasuk memilih dan melatih pewawancara)
6.      mengedit dan mengode data
7.      analisa dan pelaporan

Pembuatan Peta Hijau memang tidak jauh berbeda dengan sebuah proses
penelitian survai. Hanya saja, dalam pembuatannya, Peta Hijau
memiliki beberapa karakteristik khusus, terutama dalam hal metode
penelitiannya. Misalnya, jika dalam sebuah penelitian survai, para
pencari data di lapangan mencari data dengan melakukan survai dan
observasi dengan menitikberatkan pada metode wawancara. Dalam
pembuatan sebuah Peta Hijau, metode seperti itu juga dilakukan.
Namun, disamping itu, para pencari data di lapangan harus sekaligus
melakukan proses-proses pemetaan juga. Maka dari itu, Peta Hijau
sudah seharusnya memiliki sebuah metode standard tersendiri yang bisa
mengakomodasi kepentingan dan tujuan yang disasar. Metode tersebut
tidak akan jauh berbeda dengan langkah-langkah dalam sebuah
penelitian survai. Hanya saja, metode pembuatan Peta Hijau akan
lebih spesifik untuk tujuannya sendiri.

Dari pengalaman beberapa kali melakukan proses pembuatan Peta Hijau
selama ini, para greenmapper sudah memiliki sebuah metode dengan
tahap-tahap yang sudah direncanakan. Langkah-langkah yang biasa
diterapkan oleh Komunitas Peta Hijau selama ini adalah sebagai
berikut:
1.      pembentukan tim inti dan merumuskan proyek pemetaan yang akan
      dilakukan (termasuk kawasan yang akan dipetakan dan pendanaan)
2.      rekruitmen relawan
3.      pencarian data di lapangan (termasuk pelatihan relawan)
4.      kompilasi data
5.      desain dan cetak
6.      peluncuran dan distribusi

Langkah-langkah tersebut di atas secara umum hampir sama seperti
langkah-langkah dalam penelitian survai. Metode itu telah terbukti
bisa menghasilkan beberapa Peta Hijau. Namun,  Peta Hijau yang
dihasilkan secara umum masih jauh dari sempurna. Masih banyak ditemui
informasi-informasi dalam peta yang kurang akurat dan tidak sesuai
dengan kenyataan yang ada di lapangan. Tentu saja hal ini sangat
disayangkan. Jika dilihat secara lebih seksama, permasalahannya
terletak pada metodenya sendiri. Selama ini, metode yang dipakai
masih cenderung belum memiliki konsep yang jelas. Selain itu, peran
para relawan terutama yang merupakan masyarakat lokal belum bisa
optimal karena ketidakjelasan konsep metode yang dipakai menyebabkan
sering timbul kerancuan penentuan fungsi masing-masing pihak yang
terlibat. Selanjutnya, proses kompilasi data yang dilakukan juga
belum bisa dioptimalkan. Sekali lagi, peran masing-masing pihak yang
terlibat masih kurang jelas. Hal ini secara tidak langsung juga
berpengaruh pada analisis data selanjutnya yang berfungsi dalam
penyusunan peta.

Dari permasalahan yang ada dan dengan melihat metode-metode
penelitian serta pemetaan yang baik, bisa kemudian dimunculkan sebuah
metode yang khusus bagi kepentingan pembuatan Peta Hijau. Metode yang
akan dimunculkan ini akan tetap berbasis pada langkah-langkah yang
selama ini sudah digunakan oleh greenmapper, hanya saja pada beberapa
hal akan mengalami penyesuaian dengan metode-metode yang lebih jelas
dan akurat. Secara garis besar, metode yang ditawarkan adalah sebagai
berikut:
1.      perumusan masalah dan tujuan
2.      desain penelitian bersama
3.      pekerjaan lapangan
4.      koleksi data gabungan
5.      analisis data bersama
6.      hasil akhir


1.      Perumusan masalah dan tujuan
Peta Hijau dibuat dengan memperhatikan suatu kawasan termasuk
pelibatan masyarakat lokal. Hal ini merupakan pendekatan yang sudah
menjadi ciri khas Peta Hijau. Dalam bidang keilmuan, pendekatan
seperti ini disebut dengan partisipatoris. Pendekatan ini dalam
aplikasinya melibatkan seluruh unsur dan potensi masyarakat dalam
sebuah proses penelitian. Tadjuddin Noer Effendi menjelaskan bahwa
metode ini berbeda dengan metode penelitian konvensional yang sangat
tergantung pada peranan peneliti profesional tanpa mengikutsertakan
peran serta mayarakat. Peneliti seolah-olah menjadi bagian yang
terpisah dari masyarakat yang ditelitinya, sehingga semua penyusunan
perencanaan dan proses penelitian dikerjakan seluruhnya oleh para
peneliti. Sebagai pihak yang diteliti, masyarakat tidak akan pernah
tahu dan mengerti apa yang dilakukan oleh peneliti terhadap mereka.
Masyarakat pun tidak punya hak kontrol atas jalannya penelitian dan
otomatis tidak memiliki tanggung jawab apa pun terhadap hasil
penelitian (Prasodjo, 2000).

Berdasarkan metode yang lebih menekankan keikutsertaan masyarakat
dalam keseluruhan penelitian ini, masyarakat dilibatkan sejak awal
penyusunan proposal hingga penyimpulan hasil penelitian. Komunitas
Peta Hijau selama ini belum melakukan pendekatan partisipatoris yang
menyeluruh seperti ini. Pelibatan masyarakat lebih banyak tercurah
dalam proses pekerjaan lapangan. Sementara, proses awal seperti
penyusunan konsep dan proposal peneliotian serta proses akhir seperti
analisis data dilakukan oleh tim kecil greenmapper; pada bagian ini
masyarakat masih belum dilibatkan secara penuh.

Agar tujuan Peta Hijau bisa benar-benar mencapai sasarannya,
pelibatan masyarakat sudah seharusnya dilakukan sejak awal. Pada awal
proses, tim Peta Hijau  bersama masyarakat merumuskan permasalahan
bukan berdasarkan kepentingan dan disiplin tim Peta Hijau**, tetapi
berdasarkan masalah yang ada dan dihadapi di lapangan. Dengan
demikian, biasanya, permasalahan yang dihasilkan benar-benar bisa
mencerminkan permasalahan yang muncul di dalam kehidupan sehari-hari
kawasan dan masyarakat yang akan dipetahijaukan.


2.      Desain penelitian bersama
Desain penelitian ini dilakukan secara bersama-sama dengan membentuk
suatu konsensus antara tim Peta Hijau dengan masyarakat. Memang
sebaiknya perumusan masalah hingga desain penelitian ini dilakukan
oleh sebuah  kelompok kecil yang di dalamnya terdiri dari tim Peta
Hijau dan wakil-wakil masyarakat. Hal ini akan lebih mempermudah
proses daripada harus melibatkan banyak orang sejak awal. Kelompok
kecil inilah yang bertanggung jawab atas lingkaran proses penelitian
(pembuatan Peta Hijau) secara keseluruhan. Desain penelitian itu
dengan sendirinya akan menyesuaikan dengan permasalahan yang akan
dijadikan objek. Dalam proses inilah dipersiapkan metode-metode yang
akan dipakai dalam proses pencarian data. Penentuan sampel dan
pembuatan kuesioner atau pedoman wawancara juga dilakukan pada tahap
ini.

Berbagai peralatan dan perlengkapan juga harus dipersiapkan pada
tahap ini. Setelah rumusan masalah dan desain penelitian siap,
peralatan dan perlengkapan yang diperlukan baru bisa diketahui secara
rinci. Paling tidak ada dua peralatan dasar,yaitu untuk kepentingan
pencarian data dan untuk kepentingan pemetaan. Peralatan dan
perlengkapan untuk pencarian data secara umum lebih mudah
dipersiapkan, misalnya buku catatan, kertas kosong, alat tulis, tape
recorder, dan peralatan dokumentasi (kamera foto, kamera video).
Selain itu, harus dipersiapkan pula peralatan dan perlengkapan
pemetaan, seperti peta topografi kawasan yang akan dipetakan (paling
tidak tersedia tiga skala, yaitu 1:100.000, 1:50.000, dan 1:25.000),
foto udara, peta geologi, peta tata guna lahan, peta adminsitratif,
peta hidrologi dan tanah, serta peta-peta lain yang mendukung.
Keberadaan peta-peta semacam ini berguna untuk memberikan gambaran
umum mengenai kondisi lokasi yang akan dipetakan dan juga untuk
mempermudah pada saat terjun ke lapangan serta terutama pada saat
analisis dan interpretasi data-data temuan. Selain peta, akan
lebih baik jika bisa dipersiapkan pula peralatan seperi kompas,
meteran, buku ukur, radio panggil, hingga GPS (Global Position
System). Peralatan ini penting pada saat berada di lapangan, terutama
dalam menentukan letak suatu lokasi dengan akurat.


3.      Pekerjaan lapangan
Pekerjaan lapangan ini pada intinya merupakan proses pencarian data
di lapangan. Namun, proses pelatihan relawan pencari data juga
termasuk dalam tahap ini. Relawan pencari data yang berasal dari
masayarakat dari berbagai latar belakang ini bisa direkrut sejak awal
atau bisa juga baru direkrut menjelang pekerjaan lapangan ini akan
dilaksanakan. Sementara, beberapa wakil elemen masyarakat lainnya
telah terlibat sejak awal proses pembuatan Peta Hijau ini bersama tim
Peta Hijau. Proses pelatihan ini bisa dilakukan langsung oleh
kelompok kecil yang mendesain penelitian atau bisa juga membentuk tim
pelatih/pemateri tersendiri.

Pelatihan relawan pencari data ini sudah dilakukan oleh Komunitas
Peta Hijau selama ini dalam bentuk workshop. Hanya sayangnya,
workshop yang selama ini dipraktikkan kurang maksimal karena terlalu
singkatnya waktu dan konsep serta materi yang kurang jelas.
Akibatnya, sering para relawan kebingungan pada saat berada di
lapangan. Pelatihan yang dilakukan seharusnya memiliki waktu
pelaksanaan yang cukup untuk pembekalan materi teoritis dan praktik-
praktik. Hal ini menjadi penting karena tugas para relawan pencari
data ini natinya tidak hanya melakukan pencarian data dengan
deskripsi dan wawancara, tetapi juga sekaligus melakukan pemetaan
atas wilayah yang menjadi bagiannya. Hal terakhir inilah yang selama
ini sering luput dari perhatian, sehingga informasi yang didapatkan
oleh para relawan sering tidak terpakai pada akhirnya karena para
relawan pencari data sering kesulitan atau bahkan lupa melakukan
ploting lokasi di peta.

Untuk masalah pencarian data, para relawan akan dibekali dengan
pengetahuan-pengetahuan mengenai metode-metode pencarian data,
seperti wawancara, deskripsi verbal, pembuatan sketsa, hingga proses-
proses dokumentasi baik menggunakan kamera foto maupun kamera video.
Akan sangat baik jika setiap relawan bisa dibekali materi-materi
tersebut karena akan sangat memudahkan proses di lapangan nantinya.
Namun, jika dana dan peralatan terbatas, hal-hal tertentu bisa
saja diserahkan kepada sebuah tim khusus, misalnya tim khusus
dokumentasi yang bertugas membuat foto dan video.

Pemetaan juga harus mendapatkan porsi yang seimbang. Setiap relawan
dilatih dasar-dasar pemetaan sederhana, seperti pengukuran, penentuan
koordinat, penentuan administrasi situs, penentuan arah mata angin,
pencatatan kondisi lingkungan, hingga penggambaran sketsa.
Pengetahuan mengenai cara-cara mendeskripsikan letak lokasi, bentang
alam, topografi, waktu, hingga cuaca ada baiknya juga diberikan. Pada
saat turun ke lapangan, setiap relawan sebaiknya membawa peta dan
peralatan yang menunjang. Jika peta dan peralatn yang ada terbatas
bisa dibagi berdasarkan kelompok.

Setelah workshop selesai, dilakukan pekerjaan lapangan berupa
pencarian data dan pemetaan. Tahap ini bisa dilakukan dalam berbagai
kemungkinan, tergantung objek penelitian (pemetaan) dan metode yang
diterapkan. Namun, apapun objek dan metodenya, tahap ini seharusnya
memang dijadwalkan dalam jangka waktu yang cukup. Jangan sampai
jangka waktu pencarian data itu terlalu pendek, sehingga banyak hal
yang belum sempat terdata. Penjadwalan harus dilakukan bersama-sama
ula sejak awal karena ada banyak orang dari berbagai latar belakang
dengan kesibukannya masing-masing yang terlibat.

Hal lain yang patut mendapat perhatian adalah peralatan dan
perlengkapan yang harus dibawa selama proses ini. Selain perlengkapan
pencarian data dan pemetaan seperti telah disebutkan di atas, perlu
dipikirkan pula hal-hal seperti kendaraan, konsumsi, hingga base
camp. Hal-hal seperti ini tentunya sangat disesuaikan dengan
kondisi di lapangan dan ketersediaan dana yang ada. Untuk
permasalahan ini, Komunitas Peta Hijau tampaknya sudah cukup paham
dan berpengalaman.


4.      Koleksi data gabungan
Koleksi data gabungan ini tentu saja dilakukan oleh seluruh pihak
yang terlibat dalam proses pembuatan Peta Hijau ini. Kelompok kecil
yang telah merumuskan masalah dan membuat desain penelitian harus
terlibat dalam tahap ini bersama-sama seluruh relawan pencari data.
Seperti yang selama ini diterapkan oleh Komunitas Peta Hijau,
proses koleksi data gabungan ini dilakukan minimal dua kali. Hal ini
dilakukan untuk mengakomodasi kemungkinan-kemungkinan jika diperlukan
survai ulang atau pengayaan data kembali. Dalam tahap ini pula
dilakukan diskusi mengenai data-data yang telah ditemukan berdasarkan
metode yang diterapkan dengan parameternya masing-masing. Proses
perdebatan dalam diskusi inilah yang akan memperkaya pengenalan
masyarakat terhadap kawasan tersebut.


5.      Analisis data bersama
Analisis ini dilakukan setelah tahap koleksi data bersama berakhir
secara keseluruhan. Proses ini lebih baik dilakukan oleh kelompok
kecil konseptor di atas tadi. Dalam proses ini, setiap anggota
kelompok kecil memiliki peran yang seimbang, sehingga Tim Peta Hijau
tidak bisa menganggap dirinya lebih memiliki otoritas daripada
anggota tim yang berasal dari masyarakat. Akan sangat baik jika
analisis telah selesai, dibuat terlebih dahulu sebuah dummy. Dummy
ini dipresentasikan kepada para relawan pencari data yang terlibat
sebelumnya. Hal ini dilakukan sebagai sebuah mekanisme kontrol dari
para pencari data terhadap data yang mereka peroleh di lapangan.


6.      Hasil akhir
Hasil akhir dari seluruh proses ini adalah data-data hasil analisis
dan juga sebuah Peta Hijau. Dalam penyajiannya menjadi sebuah peta,
kelompok kecil yang bertanggung jawab atas seluruh proses ini harus
selalu mengawasi ketika peta itu sedang didesain. Ada kalanya,
desainer peta yang terlibat tidak begitu paham dengan materi peta
yang ia kerjakan, sehingga besar kemungkinannya akan terjadi
kesalahan-kesalahan. Dengan pendampingan yang dilakukan oleh kelompok
kecil tadi dalam proses desain, diharapkan kesalahan-kesalahan itu
tidak akan terjadi.


Penutup
Apa yang telah disampaikan ini adalah sekedar upaya agar Peta Hijau
benar-benar bisa mencapai sasarannya. Inisiatif Komunitas Peta Hijau
untuk membuka cakrawala baru ke arah perkembangan kawasan dengan
melibatkan masyarakat ini bisa lebih mudah terwujud dengan menerapkan
pendekatan partisipatoris secara menyeluruh seperti di atas. Dalam
hal ini, masyarakt tidak lagi hanya menjadi objek, tetapi juga
sebagai pelaku. Dengan demikian, masyarakat mampu melihat
permasalahan yang mereka hadapi dan mampu juga memecahkan
permasalahan tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh Robert Chambers
(Prasodjo, 2000), dalam hal ini peneliti hanya bertindak sebagai
fasilitator. Mereka memberikan fasilitas dalam bentuk penyelidikan,
analisis, hasil penelitian, serta pemahamannya. Dengan demikian,
masyarakat akan dapat memiliki dan mempelajari hasil penelitian.
Dalam hal ini, tim peneliti itu adalah Komunitas Peta Hijau. Mereka
harus selalu bertanggung jawab dan kritis. Selain itu, akan selau
terjadi saling tukar informasi dan ide, baik antara masyarakat dengan
fasiitator maupun di antara fasilitator sendiri. Bahkan, bisa juga
dilakukan saling tukar-menukar kegiatan, pelatihan, dan pengalaman.
Dari seluruh proses tersebut tampak jelas bahwa pendekatan ini pada
dasarnya mengutamakan proses belajar dan mengajar, terutama bagi
peneliti (Komunitas Peta Hijau) dan lebih-lebih lagi bagi masyarakat.

Pendekatan partisipatoris seperti ini memang lebih menekankan pada
proses penelitiannya daripada sekedar hasil akhir penelitian.
Berkaiotan dengan upaya penekanan terhadap proses dan tindakan
pembelajaran dalam tahap-tahapnya, pada umumnya sebuah penelitian
partisipatoris akan memperoleh beberapa macam pencapaian. Fernandes
dan Tandon (Prasodjo, ibid.) merumuskannya sebagai berikut:
1.      Perubahan dan tindakan sosial langsung merupakan salah satu
hasilnya. Para pelaku dalam proses riset ikut serta dalam usaha
bersama untuk mengubah situasi mereka karena menyadari sebab-sebab
situasi yang mereka alami saat ini, dan menyadari kemampuannya untuk
menjadi pelaku perubahan.

2.      Pengetahuan yang bertambah mengenai situasi sosial tertentu
sebagai hasil yang lain. Tidak seperti sistem riset klasik ketika
peneliti dari luar memonopoli pengetahuan, penelitian partisipatoris
menyediakan pengetahuan bagi peneliti dan pelaku dalam masyarakat
tersebut. Hal ini memungkinkan para pelaku memulai proses pengambilan
keputusan yang didasarkan atas pengetahuan itu.

3.      Kemampuan yang bertambah di antara para pelaku untuk memahami
dan mengubah situasi mereka sebagai hasil berikutnya. Hal ini
merupakan akibat dari keyakinan diri baru yang mereka peroleh sebagai
hasil dari upaya pencarian pengetahuan yang dikombinasikan dengan
usaha pada tingkat aksi. Orang-orang yang selama ini dianggap tidak
dapat menjadi sesuatu yang lain selain menjadi budak dan pelaksana
perintah (pada tingkat riset: menjadi objek kajian orang luar) kini
dipandang mampu menganalisis dan memahami kenyataan mereka sendiri.
Hal ini bermuara pada gambaran diri yang baru dan pada bertambahnya
kemapuan untuk belajar serta bertindak. Inilah aspek edukatif
pendekatan pertisipatoris ketika para pelaku dalam situasi masyarakat
tertentu mempelajari bagaimana belajar itu sendiri terjadi di dalam
proses tersebut.

Kesemuanya itu adalah masukan bagi proses pembuatan Peta Hijau agar
Peta Hijau itu sendiri tidak menjadi sebuah peta yang biasa saja.
Namun, Peta Hijau menjadi sebuah peta  yang memiliki nilai lebih.
Nilai lebih itu berasal sejak dari proses pembuatannya hingga hasil
akhirnya sebagai sebuah peta yang diakui keakuratannya secara ilmiah
walaupun dalam bentuknya yang praktis dan populer. Kesemuanya itu
harus mendapatkan perhatian yang seimbang. Akan sangat disayangkan
jika perhatian lebih ditujukan dalam pencarian data saja, sehingga
proses pemetaannya menjadi kurang terperhatikan; demikan pula
sebaliknya. Setiap tahap adalah sebuah mata rantai yang tidak bisa
dilepaskan. Memang mungkin untuk saat ini hal tersebut masih sulit
untuk diwujudkan secara keseluruhan karena keterbatasan sumberdaya
manusia dan dana. Tetapi, usaha ke arah itu akan selalu dilakukan.
Setahap demi setahap, Peta Hijau langkah per langkah akan semakin
disempurnakan.


Yogyakarta, 22 Agustus 2004


*Anggota Greenmapper Jogja (Komunitas Peta HIjau Yogyakarta)

**Tim Peta Hijau didefinisikan sebagai tim kecil yang berisi para
peneliti dari Komunitas Peta Hijau (greenmapper). Tim kecil ini
hendaknya memiliki sumberdaya manusia yang ahli di beberapa bidang
yang terkait. Masyarakat didefinisikan sebagai masyarakat yang
tinggal di kawasan yang akan dipetakan yang terlibat dalam proses
pemetaan ini dan juga masyarakat lain yang merupakan relawan lepas
yang berasal dari berbagai wilayah dan latar belakang. Sejak awal
harus sudah dirumuskan bagaimana bentuk keterlibatan masyarakat,
apakah setiap tahap memerlukan keterlibatan setiap relawan atau ada
tahap-tahap tertentu yang hanya memerlukan keterlibatan wakil-wakil
relawan (tidak semuanya). Sebagai contoh, tahap perumusan masalah
hanya melibatkan wakil-wakil masyarakat relawan, sedangkan tahap
pencarian data di lapangan melibatkan seluruh masyarakat relawan.



Posted at 08:16 pm by greenmapper
Make a comment  




May 11, 2005
tim air perdana

dies veneris, 12 Mei 2005


sebenarnya betul seperti kata Buyung (sipil UGM '01)
            'hari ini gak dapat apa-apa.....'
Yoa! Siang itu kami cuma berjalan sejauh kurang lebih 30 m.
Lima belas meter ke sebelah barat laut dan 15 meter lagi ke sebelah tenggara jembatan sungai sileng, tempat kami memarkir motor.

Hari itu yang bisa eksplore cuma disiplin ilmu sipil dan geologi. Tidak ada sebuah konstruksi fisik tertentu yang bisa bicara tentang karakteristik sungai sileng itu sendiri yang bisa disumbangkan pada para analis-analis arsitektur. planologi bisa belajar sedikit. tentang kultur (intangible), ya jelas banyak.

Yang lebih banyak cerita pak Jack. thanks pak Jack, sabar ngasih informasi. Konsekuensinya, pentas pak Jack berdurasi paling panjang dalam kaset mini DV hasil rekaman kami. 
         'tukang ili-ili....'
ya, cerita tentang tukang ili-ili (pengatur air desa) cuma sebatas legenda, bukan hidup untuk  jaman sekarang. Sebagaimana sebuah kerajaan purba, tangan-tangan raja bekerja, seperti pengatur pajak dan upeti, juga  si pengatur air.
aku sedang berpikir, bagaimana caranya supaya 'tukang ili-ili' itu bisa hidup lagi . Apapun bentuknya  menurut masa kini, melayani kembali masyarakat yang selalu kebanjiran waktu hujan tapi kekeringan waktu kemarau. Kupikir, subjek ini vital fungsinya sebagai penjaga gawang bagi suatu komunitas dapat tetap sustainable.

Btw, kami menghabiskan 2 jam perjalanan untuk tetap fokus mendapat data debit air, kedalaman air, erosi dan sedimentasi sungai, jenis batuan sungai, dan vegetasi sungai.  Data-data teknis yang didapat di lapangan dikumpulkan untuk dapat memberikan petunjuk atau indikasi tentang apa yang telah terjadi, sementara ini  sungai sileng.

Untuk sementara waktu, kelompok kami belum mampu memberikan informasi plotiing peta seperti yang dilakukan oleh kelompok lain, oleh sebab data yang kami dapatkan masih berupa deskripsi dan belum diterjemahkan ke dalam sistem ikon-ikon yang telah ditentukan. Bentuk data lain yang kami berikan juga berupa sebuah dokumenter tentang sungai-sungai kawasan Borobudur. 
 
Data yang masih kami cari adalah tesis mengenai Danau Purba. Dikatakan bahwa Borobudur sengaja di buat di tengah-tengah danau (purba) dengan citra sebuah bunga lotus berwarna putih.     

Kami senang, karena anggota kelompok kami berasal dari banyak disiplin ilmu:
                  Fery (planologi'03)
                  Kadek (arsitektur'02)
                  Wiwik (arsitektur '01)
                  Indah SK (arsitektur '01)
                  Bowo (geologi....)
                  Vikri (geologi....)
                  Buyung (sipil '01)  


1.kelompokair
2. minggu, 8 mei 2005
3. sungaisileng
4. ?
5. sumber daya alam (SDA)
6. fisik:
      -  tinggi sungai kurang lebih 297m di atas permukaan laut, diukur dari 50 m dari sebelah barat jembatan Sungai Sileng.
      -  terdapat tanggul alam di sepanjang sungai.
      -  terjadi banyak sedimen sehingga mengurangi bentang alur sungai yang semula 10m menjadi 5 m.       
      - stadia/umur sungai Sileng dewasa, lembah berbentuk 'U' dengan erosi vertikal sebanding dengan erosi horisontal.        
      - tingkat pelapukan relatif besar/efektif sehingga lapisan tanah cukup tebal.
      - jenis batuan: breksi andesit dan batu pasir. Serta endapan fluvial (berukuran krakal - bongkah) pada DAS.
      - terdapat channel bar (batuan yang terakumulasi di tengah) sebagai indikator masih terjadi erosi vertikal, dan point bar (endapan berukuran krakal di tepi sungai). Keduanya merupakan hasil endapan sungai.
      - sungai berkelok-kelok menyebabkan aliran debit tidak seragam. di titik yang ditinjau debit air = 0.35 m3/dtk.
      - sungai tidak dapat digunakan sebagai irigasi karena elevasinya lebih rendah dari persawahan.  Sebagian  petani harus memompa air ke atas untuk mengairi sawahnya, ketika musim kering, karena sawahnya tadah hujan.
      - kualitas air : warna keruh, berbau, tidak dapat diminum.
      -  disfungsi sungai : dulu =sumber daya air bagi kehidupan
                                       sekarang = pembuangan limbah.
      - vegetasi :  bambu : legi, petung (dulu banyak)
                          pohon kelapa
                          kokosan
                          sono keling
      - arsitektur : sebuah mesjid, beberapa rumah, tempat mandi dan cuci.
 
non fisik :
       - perubahan fungsi sungai terjadi mengakibatkan perubahan orientasi ekonomi. Semula berorientasi agraris berubah menjadi komersil ( warga yang miskin mengasong ke kota)
        - legenda 'tukang ili-ili'.

7.plotting peta, film dokumenter.


syalom,
Indah SK.




Posted at 11:19 pm by greenmapper
Make a comment  

8 Mei 05 Simulasi Pemetaan yang Asik dan untuk 22 Mei 05!

simulasi survey tanggal 8 mei 2005 kemarin dimulai dengan terlambat, karena peserta yang datang pada molor karena, konon, kecapekan ikut studi ekskursi pak eko prawoto kemarinnya.

walhasil berangkatlah sekian banyak orang itu ke borobudur dengan mobil, motor dan beberapa ngebis. sesampai di sana, ternyata pendamping kelompok belum terlalu jelas mengenai pembagian wilayahnya, sehingga harus konsultasi ulang. it only takes 15 minutes [huahahahahahaha] dan akhirnya berangkatlah mereka berkelompok-kelompok.

waktu yang diberikan "cuma"dua jam, but it was 2 exciting hours :) asik sekali, karena kita selain dapet medan yang asik, kita juga saling belajar metode pemetaan dari temen2 yang beda background ini. karena semua jadi harus cepat, beberapa hal sempet kelewatan, seperti koordinasi kendaraan untuk survey [karena sepeda ternyata nggak bisa diakses], jadi tiap kelompok langsung mengurus sendiri2 kebutuhan transportnya.

 

selesai pencarian data lapangan, kita hanya mempresentasikan 3 temuan yang dianggap paling menarik. setelah itu masuk sessi tanya jawab metode. kami bersepakat untuk mengumpulkan data langsung via internet [baca suratnya mbak Sinta yg sebelumnya, ok?]. tetapi copy data dan peta tetap dikumpulkan di CHC lantai 3 jur arsitektur, dengan deadline Sabtu, 14 Mei 2005 sore. data ini akan dibaca dibaca dan dikompilasi pointingnya oleh tim inti. acara kemarin pas ditutup pukul 16.15 wib teng sesuai jadwal.

 

untuk tanggal 22 mei 2005, kami bersepakat untuk langsung berkumpul di lotus 2, jalan balaputradewa 54, borobudur, magelang, jam 8 pagi dan akan mulai pemetaan jam 9 pagi sampai selesai. pencarian data kali ini lebih mandiri, karena sistem pengumpulan data juga lebih menyesuaikan dengan keleluasaan teman2 relawan, except, copy data dan peta tetep dikumpulkan di CHC setelahnya untuk di rekap olehku dan rully dan mbak sinta dan joyo.... hehehehehehehehehehe.... banyak2 makan wortel deh ;P mau bantuin?

beberapa teman berencana menginap disana, tepatnya di tempat kkn si lutfi klp 8 di candirejo [ada 2 rumah kosong tempat kkn dia dulunya]. selain mau ngliput waisak, temen2 juga pingin sekalian total aja... sebelum masuk masa ujian, hehehehehehehehe... biar tuntas gitu loohhh..... kata mereka.

buat temen2 yang pingin nginep juga, silahkan berkoordinasi dengan luthfi langsung, biar dia enak ngurus ijinnya [luthfi: 08170420500]. dan kalau butuh surat ijin, tolong kasih tahu aku, ok? sms aja, ok [lieke: 081802778600].

 

eko berhasil mengajak temennya yang asli emang tinggal di borobudur :) ada juga anak2 geografi [tambahan], kedokteran hewan dan teknik sipil yang akan bergabung tanggal 22 mei 05 besok... waaawawawawaawaa... this is great!! pak jack akan mengkonfirmasi keadaan perahunya... jadi insya Allah temen2 bisa rafting di elo tanggal 22 besok.

aku belum dapet bocoran mengenai makan siang, tapi kita juga bisa bawea bekal sendiri ya :)

 

notes: temen2 yang butuh data/info apapun tentang desa liputannya, tolong hubungi aku, supaya bisa diatur atau dicarikan narasumbernya oleh temen2 di sana. ada juga komunitas disana, namanya [kalo gak salah] "jagad cleguk" [hahahhahahahahaha, lucu]. itu adalah warung informasi yang didirikan orang2 lokal dan konon dapat menyediakan informasi apapun. letaknya di dekat parkiran candi [timur candi].

 

bisa belajar banyak karena kita berbeda satu sama lain :)

 

ntar deh nambahin lagi,

salam,

lieke

 


Posted at 08:29 pm by greenmapper
Make a comment  

info buat kelompok WRINGINPUTIH, CANDIREJO DAN GIRITENGAH

oleh: Rahadea

Untuk kelompok2 yg berlokasi di daerah ini atau sekitarnya, mungkin dpt menggunakan beberapa entry ini sebagai acuan.
per entrynya sudah ada foto, map, cerita dibalik masing2 entry, sumber wawancara, teks in Indonesia & Inggris terutama yg Wringinputih. Tuk Candirejo dan Giritengah masih di komputer temenku(sedang dihubungi)

DESA WRINGINPUTIH:
01. Balai desa
02. Hutan bamboo
03. Lapangan
04. Pantangan di Karangmalang
05. Pantangan di Srigentan
06. Legenda beringin putih
07. Masjid Al Muttaqin
08. Pasar tradisional
09. Pembuat bata
10. Pemecah batu
11. Kerajinan bambu
12. Peninggalan candi Hindu (Lingga-Yoni)
13. Pohon Jangkang
14. Rumah bu Muhasnawi
15. Rumah Kadus Srigentan
16. Rumah pak Purwo
17. Saluran irigasi
18. Sawah basah
19. Sungai Progo / Tangsi
20. Pohon kelapa
21. Tanaman ketela
22. Tanaman papaya
23. Pohon rambutan
24. Warung bu Siti
25. Tanaman lombok
26. Tegalan
27. Kebonan
28. Ternak
29. Tanaman padi
30. Sumur
31. Sekolah

DESA CANDIREJO:
01. Agroforestry land
02. Agropolitan market
03. Bamboo trees
04. Tuk banyu asin
05. Cassava plantation
06. Chilli plantation
07. Dry farmland
08. Goat cage
09. Green fences
10. Ground
11. Gubug
12. Irrigation
13. Jahe plantation
14. Kladon & progo river
15. Kun's house
16. Orange plantation
17. Padepokan
18. Papandanus
19. Papaya trees
20. Path way (jalur trekking)
21. Rambutan trees
22. Salak plantation
23. Saparan
24. Sileng river
25. Small shop
26. Square
27. Tatak's house
28. Tempuran
29. Traditional market
30. Tutuk watu
31. Watu kendil
32. Watu tambak
33. Well

DESA GIRITENGAH:
01..dalam proses konfirmasi

aku diingetin aja buat ngasih data itu ke kalian ya...
GREENMAPPER, AYO SEMANGAT!!!!

Posted at 02:20 am by greenmapper
Make a comment  




Next Page

Selamat datang di blog PETA HIJAU MANDALA BOROBUDUR


   





<< November 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30

links
greenmap





Contact Me

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed